MITAPASA EVENT FUSION 2010

Posted in agenda on April 19, 2010 by mittapasa

Dalam rangka tasyukuran telah selesainya renovasi wall climbing Mapala MITAPASA, Mapala MITAPASA mengadakan “MITAPASA EVENT FUSION 2010′ , acara tersebut meliputi:

  • Seminar Lingkungan Hidup

Waktu            : Sabtu, 22 Mei 2010 Pukul 09.00 – 12.00 WIB

Tempat          : Auditorium Kampus 1 STAIN Salatiga

  • Fun Climbing

Waktu            : Sabtu – Minggu, 22 – 23 Mei 2010 Pukul 14.00 WIB – Selasai

Tempat          : Wall Climbing Mapala MITAPASA Kampus 1 STAIN Salatiga

SURVIVAL

Posted in Tak Berkategori on Mei 8, 2008 by mittapasa

Pengetahuan Dasar Survival

Survival berasal dari kata survive yang berarti mampu mempertahankan diri dari keadaan tertentu . Dalam hal ini mampu mempertahankan diri dari keadaan yang buruk dan kritis. Survivor adalah orang yang sedang mempertahankan diri dari keadaan yang buruk.

Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :

Keadaan alam (cuaca dan medan)
Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)
Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)
Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri. dalam keadaan tersebut ada beberapa faktor yang menetukan seorang Survivor mampu bertahan atau tidak., antara lain : mental ,kurang lebih 80% kesiapan kita dalam survival terletak dari kesiapan mental kita.

Definisi Survival

Survival disini dapat dijabarkan tindakan :

S : Size up the situation / Pandai-pandailah melihat situasi

U : Under haste make waste / jangan tergesa-gesa (slow down)

R : Remember where you are / ingat dimana anda berada

V : Vangush fear and panic / kuasai diri dari rasa takut dan panik

I : Improvise / kuasai diri dari kesulitan

V : Value living / hargailah hidup anda

A : Act like the nature / hiduplah sesuai dengan alam sekitar

L : Learn the basic skill / pelajari dasar-dasar keahlian dengan baik

Jika anda tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah arti survival tsb, agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan. Dan yang perlu ditekankan jika anda tersesat yaitu istilah “STOP” yang artinya :

S : Stop / berhenti

T : Thinking / berpikirlah

O : Observe / amati keadaan sekitar

P : Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan

Yang harus dipunyai oleh seorang survivor

Sikap mental
*Semangat untuk tetap hidup
*Kepercayaan diri
*Akal sehat dan Intelegensi tinggi
*Disiplin dan rencana matang
*Kemampuan belajar dari pengalaman

Pengetahuan
*Cara membuat Biouvack
*Cara memperoleh air
*Cara mendapatkan makanan
*Cara membuat api

Pengetahuan orientasi medan
*Cara mengatasi gangguan binatang
*Cara mencari pertolongan

Pengalaman dan latihan
*Latihan mengidentifikasikan tanaman
*Latihan membuat trap (Jebakan untuk binatang), dll

Peralatan
*Korek api
*Pisau
*Ponco dll
*Kemauan

HIpotermia

Posted in Tak Berkategori on Mei 8, 2008 by mittapasa

Hipotermia adalah suatu keadaan dimana tubuh merasa sangat kedinginan. Setelah panas dipermukaan tubuh hilang maka akan terjadi pendinginan pada jaringan dalam dan organ tubuh. Kedinginan yang terlalu lama dapat menyebabkan tubuh beku, pembuluh darah dapat mengerut dan memutus aliran darah ke telinga, hidung, jari dan kaki. Dalam kondisi yang parah mungkin korban menderita ganggren (kemuyuh) dan perlu diamputasi.

Udara dingin yang basah disertai angin yang bertiup kencang, seringkali dijumpai para pendaki ketika melakukan pendakian gunung. Tidak jarang badai dan hujan lebat menyertai hawa dingin. Malam yang cerah seringkali membuat udara semakin dingin dan berembun. Di puncak musim kemarau justru di sekitar puncak gunung seringkali muncul kristal-kristal es yang menempel pada daun-daunan dan bunga edelweis.

Pakaian yang basah, semakin menambah dinginnya badan. Keadaan akan semakin parah bila pendaki tidak memperhatikan makanan sehingga tubuh tidak memperoleh ernergi untuk memanaskan badan. Dinginnya udara seringkali membuat perut kembung sehingga enggan untuk makan, kecuali memang kehabisan makanan.

Gejala -gejala kedinginan biasanya Pendaki akan menggigil kedinginan, gigi gemeretakan, merasa sangat letih dan mengantuk yang sangat luar biasa. Selanjutnya pandangan mulai menjadi kabur, kesigapan mental dan fisik menjadi lamban.

Gejala kedinginan yang lebih parah akan membuat gerakan tubuh menjadi tidak terkoordinasi, berjalan sempoyongan dan tersandung-sandung. Pikiran menjadi kacau, bingung, dan pembicaraannya mulai ngacau. Kulit tubuh terasa sangat dingin bila disentuh, nafas menjadi pendek dan lamban. Denyut nadi pun menjadi lamban, seringkali menjadi kram bahkan akhirnya pingsan.

Untuk membantu penderita sebaiknya jangan cepat-cepat menghangatkan korban dengan botol berisikan air panas atau membaringkan di dekat api atau pemanas. Jangang menggosok-gosok tubuh penderita. Jika korban pingsan, baringkan dia dalam posisi miring. Periksa saluran pernafasan, pernafasan dan denyut nadi. Mulailah pernafasan buatan dari mulut dan menekan dada.

Pindahkan ke tempat kering yang teduh. Ganti pakaian basah dengan pakaian kering yang hangat, selimuti untuk mencegah kedinginan. Jika tersedia, gunakan bahan tahan angin, seperti alumunium foil atau plastik untuk perlindungan lebih lanjut.

Panas tubuh dari orang lain juga bagus untuk diberikan, suruh seseorang melepas pakaian, dan berbagi pakai selimut dengan si korban. Jika penderita sadar, berikan minuman hangat jangan memberikan minuman alkohol. Segeralah cari bantuan medis.

Seperti halnya terlalu kepanasan, anak muda dan orang tua merupakan sasaran paling banyak. Alasannya, tubuh kurang efisien dalam mengatur temperatur tubuh. Namun, orang dewasa yang fitpun, dapat kedinginan jika terlalu lama berada di air dingin, udara dingin atau di cuaca dingin tanpa pelindung. Selain itu minuman beralkohol dan narkotika juga mengurangi mekanisme pemanasan tubuh.

Untuk menghadapi bahaya kedinginan bawalah beberapa lapis pakaian kering. Siapkan mantel hujan, jaket tebal, dan kantung tidur. Masukkan pakaian kedalam kantong plastik sebelum dimasukkan ke dalam tas. Gunakan cover pelindung air untuk membungkus tas. Bawalah bekal makanan yang cukup, ada baiknya membawa bekal lebih guna menghapi tertundanya perjalanan karena cuaca atau harus beristirahat karena sakit. Pelajari jalur yang akan ditempuh sebelum melakukan pendakian, hal ini bisa ditanyakan ke petugas pos penjagaan. Rencanakan dan pilih tempat yang akan digunakanan untuk beristirahat, berlindung, memasak, dan mendirikan tenda.

Pilihlah pendakian pada musim kemarau, karena pada musim penghujan curah hujannya tinggi sering ada badai dan tanah longsor, di musim kemaraupun di gunung sering turun hujan namun tidak sebanyak dan sesering di musim hujan. Musim kemarau yang cerah suhu di gunung sangat dingin sekali bisa minus dibawah nol, dibeberapa gunung misal gunung semeru sering muncul kristal-kristal es. Bila cuaca sangat buruk dan sudah tidak sanggup menghadapi udara yang semakin dingin sebaiknya tidak melanjutkan pendakian, karena bisa berakibat sangat fatal.

Dalam menembus cuaca yang sangat dingin harus berusaha mengatasi rasa lapar, kelelahan dan mengantuk. Beristirahatlah sebentar saja bila terlalu lama badan justru akan semakin dingin dan semakin mengantuk, dengan berjalan badan biasanya menjadi hangat bahkan berkeringat. Termos kecil berisi kopi hangat sangat praktis untuk membantu mengatasi rasa dingin dan mengantuk. Sepatu bot dengan kaos kaki yang tebal dan kering sangat membantu. Sebaliknya sepatu basah, kaos kaki basah, dan sendal, dapat membuat kaki serasa beku.

Beristirahat di antara hempasan angin dingin dan tebalnya kabut, justru semakin membuat badan menjadi menggigil, untuk itu carilah batu besar atau celah-celah batu untuk berlindung dari hempasan angin dingin. Bila ingin istirahat tunggulah sampai kabut menghilang, karena beristirahat di tengah kabut membuat pakaian basah dan berembun, sehingga semakin menyiksa badan. Kaos tangan, kerudung kepala, kaos kaki, jaket tebal bisa membantu mengatasi rasa dingin. Bila memungkinkan dan tidak membahayakan lingkungan bisa membuat api unggun untuk menghangatkan badan dan beristirahat.

Ketika hendak mendirikan tenda carilah tempat yang terlindung dari hempasan angin, dan usahakan tempat yang kering. Di tempat yang basah dan lembab embun dan kabut mudah terbentuk sehingga pakaian dan peralatan kita menjadi basah, berembun dan dingin.

Bila ingin minum obat minumlah pada waktu istirahat mau tidur jangan minum obat pada saat melakukan perjalanan sangat berbahaya. Beberapa jenis obat bisa membuat kita menjadi mengantuk atau tenggorokan kering.

Gunung Slamet

Posted in info on Februari 3, 2008 by mittapasa

Gunung Slamet

GUNUNG SLAMET (3.432m)

Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dan merupakan gunung tertinggi kedua di P. Jawa dengan ketinggian 3.432m. Pada masa penjelajahan dunia yang pertama Sir Frances Drake ketika melihat Gunung Slamet, segera mengarahkan perahunya dan berlabuh di Cilacap.

Gn. Slamet dapat didaki melalu 4 jalur, lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden,lewat jalur sebelah timur Bambangan dan lewat jalur utara Guci Tegal. Dari keempat jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan, selain pemandangannya indah,banyak kera liar dan terpopuler juga termudah dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.Maaf cuma bisa nulis 3 jalur yang pernak penulis lalui:D

JALUR BAMBANGAN

Jalur Bambangan adalah jalur yang sangat populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki. Route Bambangan merupakan route terpendek dibandingkan route Batu Raden dan Kali Wadas. Dari kota Salatiga naik bus ke terminal Bawen,pindah ke bus jurusan Purwokerto turun di terminal Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus dengan tujuan Bobot sari turun di Serayu. Perjalanan disambung menggunakan mobil bak angkutan pedesaan menuju desa Bambangan, desa terakhir di kaki gunung Slamet.

Di dusun yang berketinggian 1279 mdpi ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian.

Pertama-tama menuju pos Payung dengan keadaan medan terjal dengan arah belok kanan. Pendaki akan melewati ladang penduduk selama 1 jam. Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai payung raksasa dan masih berada di tengah-tengah perkebunan penduduk. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal di tengah-tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kurang lebih2 jam. Selepas pondok Walang, medan masih seperti sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira-kira 2 jam menuju Pondok Cemara.
Sebagaimana namanya, pondok Cemara dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut. Selepas pondok Cemara pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu. Selama kira-kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat.
Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira-kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput.
Pendaki akan melewati Sanghiang Rangkah yang merupakan semak-semak yang asri dengan Adelweiss di sekelilingnya, dan sesekali mendapati Buah Arbei di tengah-tengah pohon yang menghalangi lintasan pegunungan. Pendaki juga akan melewati Sanghiang Jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari. Kira-kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan.

Plawangan (lawang-pintu) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur. Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan.

Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah, untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30- 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi.

Letusan yang pernah tercatat yakni tahun 2000, 1989, 1988, 1974?, 1973, 1969, 1967, 1966, 1960-61, 1958, 1958, 1957, 1955, 1953, 1951-52, 1951, 1948, 1944, 1943-44, 1943?, 1940, 1939, 1939, 1937, 1934?, 1933, 1932, 1930, 1929, 1928, 1927, 1926, 1923, 1904, 1890, 1885, 1875, 1875, 1860, 1849, 1835, 1825, 1772. Apabila kita ingin turun menuju jalur lain, misalnya Guci, pendaki harus melewati kompleks kawah untuk memilih jalur yang diinginkan.

JALUR KALIWADAS

Kaliwadas merupakan sebuah dusun yang berketinggian 1850 mdpi dan masuk wilayah Desa Dawehan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, atau tepatnya berada pada barat daya lereng Gunung Slamet. Untuk menuju Kaliwadas dapat ditempuh dari kota Bumiayu menuju Pangasinan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan jenis Colt yang memakan waktu 2 jam. Setiba di Pasar Pangasinan, perjalanan dilanjutkan menuju Kaliwadas dengan menggunakan Jeep Hardtop atau menggunakan angkutan umum jenis kendaraan terbuka yang beroperasi hingga pukul 18.00.
Pendaki dapat menyiapkan segala perbekalan dan perizinan dari Kaliwadas ini. Kira -kira 300 m selepas jalan desa, pendaki diarahkan menuju jalan setapak. Satu jam kemudian pendaki akan melewati Tuk Suci yang oleh penduduk setempat diartikan sebagai mata air suci. Di Tuk Suci ini terdapat aliran air yang dibendung, yang berfungsi sebagai pengairan desa di bawahnya. Selepas Tuk Suci, medan mulai menanjak menembus lorong-lorong tumbuhan Bambu yang berukuran kecil. Penduduk sekitar menyebutnya Pringgodani. Enam puluh menit kemudian pendaki akan tiba di pondok Growong.
Pondok Growong merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Di sekitar area ini banyak ditemukan pohon besar yang di bawahnya terdapat lubang berukuran cukup besar. Selepas pondok Growong lintasan relatif datar sampai pada sebuah jembatan kecil yang bemama taman Wlingi, yang berada di ketinggian 1953 mdpl. Di daerah ini terdapat persimpangan, lintasan yang lurus dan lebar menuju ke Sumur Penganten. Berjarak 500 m dari area terdapat sumber air, yang juga merupakan sebuah tempat keramat di mana banyak peziarah yang datang untuk meminta berkah.
Jalur ke kiri merupakan lintasan yang menuju ke puncak. Keadaan lintasan semakin menanjak. Di sepanjang lintasan mulai banyak dijumpai pohon tumbang dan pohon penyengat. Lintasan kadang tertutup oleh semak belukar sehingga pendaki harus waspada agar tidak tersesat. Lintasan mulai kembali melebar ketika pendaki melewati persimpangan Igir Manis yang berada di ketinggian 2600 mdpl. Di sekitar area ini akan didapati tetumbuhan Adelweiss dan tetumbuhan Arbei. Setelah itu pendaki akan sampai di Igir Tjowek yang berada di ketinggian 2750 mdpl. Daerah ini masuk kawasan Gunung Malang. Di sini terjadi pertemuan jalaur ini dengan jalur Baturaden. Beberapa meter kemudian barulah pendaki tiba di Plawangan.
Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam. Pendaki dapat berangkat pagi agar dapat menikmati keadaan puncak dan sekitamya dalam keadaan cuaca cerah. Selepas Plawangan lintasan semakin tajam hingga mencapai sudut pendakian 60. Selanjutnya keadaan lintasan semakfn parah dengan medan bebatuan vulkanik yang mudah longsor. Bau belerang terasa menyengat dari kawah ketika pendaki tiba di puncak bayangan. Setiba di daerah ini, pendaki tinggal melipir pada gigir kawah menuju arah timur.

Setelah melewati Tugu Surono yang berupa tumpukan batu, pendaki akan sampai di puncak tertinggi Gunung Slamet yang ditandai dengan patok triangulasi dan tower. Dulu tempat ini juga digunakan sebagai pemantauan aktivitas gunung api ini. Di puncak tertinggi kedua se-Jawa ini pendaki dapat menyaksikan pemandangan pada arah timur. Tampak beberapa puncak seperti Gunung Sumbing, Sundoro, Merbabu, Merapi, dan puncak Ciremai di arah barat. Semuanya berdiri kokoh sekan-akan menjadi pasak bumi Pulau Jawa.

JALUR BATU RADEN

Dari kota Purwokerto menuju tempat wisata Batu Raden menempuh jarak 15 km arah utara dan dapat ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan Angkutan umum. Batu Raden yang merupakan daerah wisata yang terkenal dengan Pancuran Telu dan Pitu ini berada di ketinggian 760 mdpl. Pancuran tersebut merupakan aliran mata air panas yang mengandung belerang. Jalur ini merupakan jalur tersulit dan jarang dilalui pendaki.
Selepas pal Taman Wisata Batu Raden, lintasan berbelok ke kanan dan menurun. Dalam perjalanan menuju pos I banyak ditemui cabang lintasan, yang merupakan jalan tikus yang banyak dibuat oleh penduduk setempat. Di tengah perjalanan pendaki akan melewati sebuah sungai. Setelah itu lintasan kembali datar dengan sajian jurang yang menganga pada sisi kanan lintasan. Untuk sampai di pos I dibutuhkan waktu selama 3 jam.
Selepas pos I lintasan mulai menanjak dengan sajian hutan yang rimbun dan asri, selama 2 jam. Untuk sampai di pos III dibutuhkan waktu selama 3 jam dengan lintasan yang tidak begitu menanjak. Vegetasi di pos III masih dalam kungkungan hutan hujan Tropis. Selepas itu pendaki akan melipir pada sebuah punggungan tipis yang berada di ketinggian 1664 mdpl. Daerah tersebut bemama Igir Leiangar. Selepas pos IV, tepatnya di puncak Gunung Malang, akan ditemui persimpangan dengan jalur Kaliwadas. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Plawangan, lalu berbelok ke kanan menuju puncak Slamet.

Mengenal Lebih Jauh Gunung Merbabu

Posted in info on Januari 31, 2008 by mittapasa

Gunung Merbabu merupakan gunung yang mempunyai keadaan yang masih baik, potensi cukup besar, dan pendakian yang cukup menantang. Selain itu kami juga membahas tentang masyarakat dan proses pembentukan Gunung Merbabu.Dapat dijadikan tambahan pengetahuan tentang gunung, khususnya Gunung Merbabu.

Proses Pembentukan Merbabu

Gunung Merbabu terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali-Jawa Tengah. Gunung Merbabu berasal dari kata “meru” yang berarti gunung dan “babu” yang berarti wanita. Jadi Merbabu mempunyai arti Gunung Wanita.

Gunung Merbabu mempunyai ketinggian 3142 meter diatas permukaan laut(dpl) serta terdapat tiga buah puncak yakni puncak Antena (2800m dpl), puncak Syarif(3119m dpl) dan puncak Kenteng Solo(3142m dpl).

Gunung Merbabu termasuk gunung yang tidak aktif karena tergolong gunung api tua di pulau Jawa ini mempunyai lima buah kawah, yaitu: kawah Condrodimuko, kawah Kombang, kawah Kendang, kawah Rebab, dan kawah Sambernyowo.

Gunung Merbabu berbentuk dataran tinggi yang lebar, berbukit-bukit dan terpisah puncaknya akibat erosi bila dibandingkan Gunung Merapi, Gunung Merbabu bentuknya besar sekali dibanding gunung api yang sangat ramping.Bagian puncaknya dapat dibagi menjadi tiga satuan yang merupakan sektor Graben Gunungapi, yakni:

∙ Graben Sari dengan arah timur tenggara-barat barat laut.

∙ Graben Guyangan dengan arah selatan baratdaya- utar timur

∙ Graben Sipendok dengan arah barat laut-timur tenggara

Erupsi samping gunungapi Merbabu banyak menghasilkan aliran lava dan aliran piroklastik, aliran lava tersebut mengalir melalui titik erupsi yang diselimuti oleh endapan piroklastika baik aliran maupun jatuhan. Titik erupsi tersebut diperkirakan melalui jalur sesar dengan arah utara barat laut-selatan tenggara serta melalui daerah puncak.

Morfologi gunungapi Merbabu dapat dibagi menjadi beberapa satuan berdasarkan penampilan bentuk rupa bumi pada peta topografi, yaitu:

ý Satuan Morfologi Sisa Graben (daerah sekitar puncak)
Satuan morfologi ini terdiri dari 3(tiga) bagian yakni Graben Sari, Graben Guyangan dan Graben Sipendok. Ketiga graben tersebut diperkirakan adalah hasil kegiatan volkano tektonik dimana kegiatan tektonik berupa sesar di-ikuti oleh kegiatan erupsi dan kemudian di-ikuti pula oleh kegiatan erupsi samping yang membentuk kerucut erupsi samping.

ý Satuan Morfologi Aliran Lava Kopeng
Satuan morfologi aliran lava ini jelas dapat dilihat di lapangan yang membentuk punggung lava yang sangat menonjol, dimana batuan yang mengalasi berupa aliran lava.

ý Satuan Morfologi Kerucut Watutulis
Satuan morfologi ini merupakan kerucut erupsi samping (flank eruption) yang banyak menghasilkan aliran lava yang bersifat andesitis – basaltis dan piroklastika, baik aliran maupun jatuhan.

ý Satuan Morfologi Kerucut Gunung Pregodalem
Keadaan satuan ini sama dengan satuan morfologi kerucut Gunung Watutulis, dimana kerucut ini dapat dipertimbangkan sebagai sumber bahaya apabila terjadi peningkatan letusan.

ý Satuan Morfologi Titik-titik Erupsi Samping
Satuan morfologi ini sangat banyak terdapat didaerah gunung Merbabu, berdasarkan peta rupa bumi daerah yang terkait, satuan morfologi ini membentuk suatu kelurusan rupa bumi yang ber-arah utara baratlaut – timur tenggara, bentuk kelurusan rupa bumi ini dapat mencerminkan adanya bentuk struktur sesar yang melalui daerah puncak gunungapi Merbabu.

Stratigrafi gunungapi Merbabu, sifat letusan dari pada gunungapi ini diantaranya adalah eksplosif, disamping itu bersamaan dengan sifat efusif yang dapat dibuktikan dengan adanya aliran lava, baik yang berasal dari pada kegiatan erupsi pusat maupun erupsi samping. Sifat eksplosif dapat dibuktikan dari banyaknya endapan piroklastika yang tebal. Secara umum gunungapi Merbabu terdiri atas :

∙ Aliran Piroklstika

Aliran ini menyebar di seluruh bagian tubuh gunungapi Merbabu, sifat singkapan tertentu dengan warna abu-abu ke-kuningan, berbutir halus hingga kasar, kadang kala ditemukan lapisan semu (“surge”), lokasi singkapan dapat dilihat di sekitar Jrakah ditemukan lapisan sebanyak lebih dari 12 lapisan piroklastika aliran dengan tanah hasil pelapukan yang sangat tebal.

∙ Aliran Lava

Gunungapi Merbabu secara umum mengisi bagian lembah sungai yang terdapat di sekitar gunungapi tersebut, ber-umur paling muda menurut urutan umur stratigrafi. Akan tetapi di daerah Selo Redjo ditemukan aliran lava tua dengan sifat pelapukan yang sudah lanjut. Di daerah Kopeng aliran lava membentuk suatu pematang aliran lava yang sangat tinggi dan membentuk lidah lava.

∙ Endapan Banjir

Endapan banjir bandang di daerah gunungapi Merbabu di temukan didaerah Kaponan, pada dasar sungai Soting, dimana menurut keterangan penduduk setempat pada Th.1985 telah terjadi banjir bandang yang telah merusak jembatan penghubung antara Kaponan dengan daerah lainnya, sifat endapan banjir bandang ini seperti endapan sungai, terdiri dari bongkah-bongkah lava andesitis sampai basaltis, pasir sangat kasar, masih segar dan mudah lepas.

∙ Endapan Longsoran (Debris Avalanche)

Endapan ini dapat ditemukan didaerah Salatiga, dimana bukaan yang sangat besar dengan arah ke utara – timurlaut, yakni daerah wilayah Salatiga.

Peneliti telah menemukan hasil erupsi berupa lava basaltis yang mengalir dalam sungai-sungai kecil pada tahun 1896. Peneliti yang berhasil menemukan hasil erupsi bernama Verbeek dan Fennema. Van Bemmelen, R.W. 1941, telah memetakan daerah Gunung Merbabu serta membagi menjadi beberapa satuan batuan hingga menjadi sembilan satuan, yaitu:

a) Kerucut Merbabu (terutama lava basaltis andesis dan breksi)
b) Dataran Tinggi Kopeng yang diselimuti oleh lapisan abu
c) Kaki kerucut Merbabu (terutama breksi lahar dan lava)
d) Aliran lava muda kerucut Merbabu (erupsi samping)
e) Kaki utara Merapi diselimuti oleh abu Gunung Merapi
f) Kawah (erupsi samping)
g) Erupsi pusat berupa aliran lava muda
h) Mofet dan solfatara di gunungapi Merbabu
i) Sisa struktur volkano-tektonik (sektor graben)

Penelitian yang dilakukan oleh Neuman van Padang 1951, telah menemukan bahwa gunungapi tersebut telah mengeluarkan basalt olivin augit, andesit augit dan andesit hornblende hiperstein augit.

Demikian pula menurut Mac Donald 1972, melaporkan bahwa pada th.1797, gunungapi Merbabu meletus melalui erupsi samping dan erupsi pusat, namun tidak dilaporkan bahwa hasil erupsi yang telah dikeluarkan serta kerusakan dan korban akibat kegiatan erupsi tersebut.

Masyarakat Sekitar Gunung Merbabu

Masyarakat disekitar Gunung Merbabu kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani. Itu dapat dilihat karena hutan Gunung Merbabu menjadi ladang pertanian. Selain menjadi petani penduduk sekitar ada yang menjadi porter atau pemandu sebagai kerjaan sampingan karena hasil yang diperoleh lebih menguntungkan.

Masyarakat disekitar Gunung Merbabu mayoritas beragama Budha karena ditemui beberapa wihara disekitarnya. Penduduk sekitar sering melakukan meditasi atau bertapa di sekitar kawah Gunung Merbabu yang dianggap keramat.

Masyarakat disekitar gunung ini pada malam hari menjelang tanggal 1 Muharam / 1 Suro mengadakan upacara tradisional di kawah Gunung Merbabu. Malam tahun baru ini penduduk lebih sering menyebutnya sebagai malam tirakatan. Menjelang uapacara tradisional ini anak-anak wanita dibiarkan berambut gimbal untuk melindungi diri dan agar memperoleh keselamatan.

Upacara ini diawali dengan doa bersama denagan sesajian makanan tradisional. Acara puncak sekaligus acara terakhir dari upacara ini diantaranya penanaman kepala kerbau di kawah Gunung Merbabu.

Pendakian ke Puncak Gunung Merbabu

Puncak Gunung Merbabu yang berada pada ketinggian 3142m dpl memang mempunyai tantangan untuk didaki. Medan Gunung Merbabu terbuka dan berbukit-bukit. Bila kita mendaki Gunung Merbabu pada musim kemarau hampir dari separuh gunung ini terbakar dan sangat gersang, air pun susah ditemukan, sebaiknya kita menyewa penduduk setempat sebagai porter.

Bila kita ingin melakukan pendakian menuju ke puncak Gunung Merbabu terdapat tiga pilihan jalur, yaitu: jalur Kopeng, jalur Selo, dan jalur Wekas. Jalur Selo juga merupakan jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi. Biasanya banyak pendaki memulai pendakiannya dari jalur Kopeng dan turun melalui jalur Selo atau sebaliknya. Tapi, akhir-akhir ini banyak pendaki yamg memulai pendakiannya dari jalur Wekas, disamping vegetasi yang masih baik di jalur ini mata air Gunung Merbabu dapat ditemukan. Hanya saja jalur-jalur yang terdapat di Gunung Merbabu sangat rawan karena banyak percabangan jalur sehingga pendaki harus hati-hati dalam menentukan jalur yang dilewati.

Pantangan yang harus dipatuhi pada waktu mendaki :

∙ Jangan Mengeluh
∙ Hindari kata-kata kotor
∙ Hindari perbuatan mesum
∙ Jangan melamun
∙ Jangan berak atau kencing di daerah yang dikeramatkan
∙ Jangan memakai pakaian warna merah dan hijau

© Pendakian melalui jalur Kopeng

Terlebih dahulu kami membahas tentang bagaimana caranya menuju Kopeng. Bila kita dari Jakarta menuju Kopeng kita bisa naik kereta api atau bus jurusan Semarang, Yogya atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan Solo-Semarang turun di simpang empat Pasar Sapi, Salatiga. , lalu dengan bus kecil ke Kopeng. Kalau kita dari Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng.

Setelah sampai di Kopeng kita dapat beristirahat menungu datangnya malam, karena pendakian akan lebih baik dilakukan pada malam hari dan tiba di puncak menjelang matahari terbit.

Rincian melalui jalur Kopeng

∆ Basecamp – Pos I Dalan Tengah (1858m dpl – 1,5 km – 1 jam)

Jalur pendakian utama ada di sebelah timur basecamp, setelah melewati beberapa rumah penduduk, jalur langsung menggarah ke Selatan. Dari sini masih melalui ladang penduduk dan beberapa bak air penampungan. Pos I merupakan sebuah belokan jalan.

∆ Pos I – Pos II Watu Putut (2146 Mdpl – 1.5 km – 1 jam)

Jalur ini banyak melewati pohon cemara jarum dan pohon dengan daun-daun kecil seperti putri malu. Pos II juga merupakan belokan jalan dengan lapangan sempit.

∆ Pos II – Pos III Gerumbul (2260 Mdpl – 1 km – 45 mnt)

Jalur mulai terbuka dan melewati banyak semak. Pos III merupakan sebuah lapangan kecil.

∆ Pos III – Pos IV Lempong Malang(2528 mdpl – 1 km – 1 jam)

Jalur terbuka dengan banyak semak dan lebih terjal. Antena di puncak I akan terlihat bila langit cerah. Pos IV merupakan lahan luas. Ke arah kiri bisa ditemukan saluran air yang hanya terisi pada saat musin hujan. Jalur dari Wekas juga bergabung di sini. Sementara ke arah kanan adalah jalur memotong ke Pos Watu Gunung yang biasa dilalui dari arah Desa Tekelan.

∆ Pos IV – Puncak I Antena (2883 mdpl – 1 km – 1.5 jam)

Jalur semakin menanjak dan tetap terbuka. Disini terdapat bangunan dengan antena dan bak air tadah hujan. Puncak I sendiri merupakan lapangan yang cukup luas tapi sangat terbuka.

∆ Puncak I – Persimpangan (2928 mdpl – 1 km – 1 jam)

Dari puncak I jalur akan sedikit menurun sebelum kemudian mendaki ke arah Gunung (bukit) Kukusan. Ada sedikit tanah lapang diatas Gunung Kukusan ini. Dari sini jalur berbelok ke kiri. Tak jauh dari situ turun ke arah kanan ada jalan turun menuju kawah sejauh 200 m menuju sungai kecil (Kali Sowo). Air dapat diambil dari pancuran pipa pvc yang sengaja disediakan. Air ini tidak terlalu asam dibandingkan bila kita mengambil langsung dari sungai. Jalur selanjutnya adalah tanjakan setan yang cukup terjal, sekali-kali diperlukan bantuan tangan untuk melewatinya untuk sampai ke persimpangan.

∆ Persimpangan – Puncak II Syarip/ Gn. Pregodalem (3119 mdpl – 200 m – 15 mnt)

Menanjak ke arah kiri dari persimpangan sejauh 200 m kita akan tiba di Puncak Syarif.

∆ Persimpangan – Puncak III Kentong Songo(3142 mdpl – 500 m – 45 mnt)

Ke arah kanan dari persimpangan, jalur akan sedikit menurun ke arah bukit kecil, Pundak Sapi. Anda bisa mendaki pundakan ini atau memutarinya ke arah kanan. Hati-hatilah karena jalurnya yang sempit dan berlereng terjal. Sebelum Puncak terakhir satu tanjakan lagi harus dilewati dan memerlukan bantuan tangan untuk melewatinya.

Pendakian melalui jalur ini ke puncak Kenteng Songo memakan waktu 7-9 jam dan turunnya 5 jam.

© Pendakian melalui jalur Selo

Jalur termudah untuk mencapai Selo adalah dari Solo karena tersedianya transportasi langsung sampai pasar Selo. Pendakian melalui Selo kemungkinan dengan tidak ditemukannya mata air.
Pendakian di Selo biasanya di mulai dengan melakukan pendaftaran di Pos Polisi Pasar Selo. Perjalanan selanjutnya harus melewati perkampungan terlebih dahulu (2 km, 45 mnt) ke arah Desa melalui jalan kecil beraspal. Pendaki mungkin perlu bertanya beberapa kali karena banyaknya persimpangan. Di Desa ini terdapat 3 rumah yang biasa dijadikan base camp sebelum memulai pendakian yang ditandai dengan banyaknya sticker kelompok pecinta alam.

Pos-pos dari Selo tidak ditandai dan dinamai dengan baik, tetapi biasanya merupakan lahan yang sedikit luas untuk tempat beristirahat. Mulai dari desa terakhir kita akan melalui hutan cemara. Kemudian memasuki hutan sekunder. Pada dasarnya akan memutari sebuah gunung kecil yang berada di sebelah kanan dan lembah disebelah kiri kita. Jalurnya sendiri cukup jelas dan tidak terlalu curam hanya saja karena ini merupakan jalur lama sehingga mulai menjadi jalur air dan sedikit licin. Setelah 3-4 jam kita akan mulai memasuki tempat yang terbuka.

Setelah memasuki tempat terbuka ini jalur menjadi terjal dan licin. Kemudian kita akan tiba di pelataran pertama. Dari sini puncak bisa mulai terlihat. Perkiraan waktu 45 mnt.

Tak lama kemudian jalur mulai terjal kembali ke pelataran ke dua. Perkiraan waktu 30 mnt. Setelah pelataran kedua ini barulah anda menghadapi tanjakan terakhir yang panjang dan terjal sebelum mencapai Puncak Kentong Songo. Perkiraan waktu 2 jam.

Total waktu pendakian melalui jalur Selo ke puncak Kenteng Songo memakan waktu 6-7 jam dan turunnya 5 jam.

© Pendakian melalui jalur Wekas

Jalur Wekas hampir sama seperti jalur Kopeng. Jalur Wekas mulai diminati karena medan pendakian yang tidak terlalu berat hanya saja selama melalui jalur ini tidak ditemukan mata air, baru ketika di Pos V tersedia
Lama pendakian bila melalui jalur ini hanya 6-7 jam dan turunnya 5 jam.

Pemandangan yang Terdapat pada Gunung Merbabu dan Sekitarnya
Pemandangan yang terdapat pada Gunung Merbabu dan sekitarnya sangat indah, terutama bila kita berada di puncak Gunung Merbabu. Sebelum kita membahas pemandangan dari dan di puncak kita akan membahas pemandangan Merbabu dari kaki gunung.

Banyak terdapat gunung di sekitar Gunung Merbabu, diantaranya Gunung Merapi, Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran, Gunung Rawa Pening. Pemandangan yang sangat indah akan didapat sepanjang perjalanan menuju puncak Gunung Merbabu.

Sewaktu kita akan menuju Pos I pemandangan yang terlihat adalah hutan Gunung Merbabu yang berubah fungsi sebagai ladang dan kebun. Kebun yang kita lalui kebanyakan kebun sayur dan kebun Akasia.

Di jalur menuju Pos II kita banyak melewati pohon cemara jarum, pohon pinus dan pohon dengan daun-daun kecil, seperti putri malu.

Di jalur menuju pos III kita juga banyak melewati semak belukar. Di pos III ini terdapat Watu Gubug, sebuah batu berlubang yang dapat dimasuki 5 orang yang juga dikeramatkan penduduk sekitar. Konon merupakan pintu gerbang menuju kerajaan mahluk gaib. Watu Gubug ini penuh dengan coretan para “pencinta alam”.

Di jalur menuju pos IV banyak semak dan di jalur ini juga akan terlihat Puncak Antena (2800m dpl). Di puncak ini terdapat sebuah pondok untuk mengukur cuaca. Dari sini juga puncak Kenteng Songo sudah terlihat jelas. Pemandangan dari puncak Antena sangat indah dan banyak pendaki membuka tenda di sini.

Di pos V ini di kelilingi oleh bukit dan tebing dan terlihat juga kawah Condrodimuko. Menuju puncak Syarif pemandangan yang indah ke arah Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Sundoro ,dan Gunung Sumbing.

Dari puncak Kenteng Songo kita dapat memandang Gunung Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Di arah Barat tampak Gunung Sumbing dan Gunung Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah. Lebih dekat lagi tampak Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Dari kejauhan juga tampak Gunung Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

Di puncak gunung ini terdapat padang rumput, bunga Edelweiss, bukit-bukit berbunga yang sangat indah.

Bunga Edelweiss hanya tumbuh di puncak pegunungan dan bunga ini terkenal karena keindahannya. Setelah sejumlah pohon yang dilindungi dijarah sekarang bunga yang dikenal sebagai bunga abadi ini dijarah habis-habisan oleh seorang oknum. Lokasi tempat bunga tersebut berada kini rata dengan tanah.

Dalam ilmu botani, bunga tersebut terbentuk secara alami dari timbunan humus dan memerlukan waktu sedikitnya lima tahun untuk tumbuh dan berbunga. Kini Gunung Merbabu kehilangan salah satu daya tariknya., lantaran Edelweiss sudah tak tumbuh normal lagi.

Upaya Pemerintah Setempat dalam Rangka Melestarikan Vegetasi Gunung Merbabu

Pemerintah sekarang berencana membuat Taman Nasional Merapi Merbabu (TNMM). Proses perencanaan ini tidak pernah disosialisasikan ke publik terutama ke masyarakat sekitar gunung tersebut. Proses pembentukan TNMM juga tidak transparan.

Saat ini ada himbauan untuk para pendaki dari pemda setempat berupa kesediaan membawa tanaman berkayu keras untuk penghijauan seperti Beringin, Gondang, Elo, Preh (sejenis beringin), Ipik (sejenis beringin), Wilodo, Kepoh, Bulu, Awar, Dadap, Teledung, Kesemek, dll).

special friends….

Posted in Tak Berkategori on Januari 22, 2008 by mittapasa

Terima kasih……….. kami sampaikan kepada MAPALASKA, TOMPUL N HAMSTER special friends… tnks banget telah membantu,meluangkan waktu untuk membagi ilmu kepada peserta diklat MITAPASA.Semoga persaudaraan kira tetap abadi sepanjang masa………1_737508168m.jpg

Pendidikan Dasar Pecinta Alam

Posted in agenda on November 24, 2007 by mittapasa

Buat kawan-kawan mahasiswa baru yang tertarik dan mempunyai jiwa petualangan.silahkan bergabung dengan MITAPASA. ayooo daftarkan segera ???di base came mpa MITAPASA

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.